Tampilkan postingan dengan label bahasa Turki. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bahasa Turki. Tampilkan semua postingan

Rabu, 22 November 2017

Belajar Bahasa Turki (Pengenalan)

1 komentar Read More →
Hagia Sophia, landmark terkenal di Istanbul. Selama 900 tahun menjadi gereja dan 600 tahun menjadi masjid. Saat ini menjadi museum dan saksi bisu besarnya peradaban Romawi dan Usmani di masa lampau.
Hoşgeldiniz! Selamat datang sahabat The Glotivist! Kali ini kita akan membahas tentang bahasa Turki. Nah, apa sih yang ada di pikiran sahabat The Glotivist ketika mendengar kata “Turki”? Sebagian di antara kita akan teringat dengan Hagia Sophia dan Masjid Biru di Istanbul, sebagian dari kita terbayang akan negeri Muslim yang terletak di dua benua yang memiliki sejarah yang menggelora. Dewasa ini, Turki merupakan negara yang amat dinamis dan cukup aktif dalam percaturan politik dunia. Di postingan kali ini kita akan berkenalan dengan bahasa Turki, salah satu bahasa utama dunia yang amat kaya akan karya sastra.

Bahasa Turki merupakan bahasa Altaik yang paling terbesar dari segi jumlah penuturnya. Selain dituturkan di Turki, bahasa Turki juga menjadi bahasa resmi di Siprus. Bahasa Turki ini turut menjadi bahasa minoritas yang diakui di negara Bosnia, Yunani, Kosovo, Macedonia, dan Rumania. Dari segi penutur, bahasa Turki memiliki jumlah penutur yang cukup besar, yakni sebesar 55-60 juta orang di kawasan Asia Barat (Anatolia) dan 10-15 juta penutur di kawasan Eropa Tenggara (Balkan). Secara keseluruhan, diperkirakan terdapat lebih dari 70 juta orang pengguna bahasa Turki di dunia.

Sejarah bahasa Turki membentang selama ribuan tahun, bahasa ini dapat ditarik dari bahasa yang dipertuturkan para kaum nomaden di wilayah Asia Tengah, di mana pada abad kedelapan, suku-suku nomaden Turki ini mulai bersinggungan dengan kekhalifahan Abbasiyah dan mulai mengenal agama Islam. Selama beberapa abad selanjutnya, agama Islam sudah menjadi pilar utama dalam kebudayaan orang Turki. Pada masa ini, bahasa Turki ditulis dalam aksara Arab-Persia. Perkembangan bahasa Turki ini semakin pesat pada masa Kekhalifahan Usmani. Pada masa ini, bahasa dan sastra Turki mengalami kemajuan yang amat signifikan. Bahasa Turki tidak hanya menjadi sekadar bahasa tutur, melainkan juga menjadi bahasa yang amat penting di kawasan Mediterania pada abad 16 di mana Kekhalifahan Usmani menikmati puncak kejayaannya baik pada bidang perekonomian maupun pada bidang militer.

Setelah keruntuhan Kekhalifahan Usmani, Mustafa Kemal Ataturk mendirikan Republik Turki dan melakukan perubahan signifikan dalam bahasa Turki: bahasa Turki yang tadinya ditulis dalam aksara Arab diganti ditulis dalam aksara Latin. Bahasa Turki juga mulai mengurangi kata-kata yang berasal dari bahasa asing, seperti dari bahasa Arab dan Persia. Walaupun demikian, masih ada beberapa kata bahasa Arab yang diserap ke bahasa Turki. Beberapa di antaranya pun juga memiliki beberapa kemiripan dengan bahasa Indonesia.

Bahasa Turki
Bahasa Indonesia
sünnet
sunat
kitap
kitab
veli
wali
saat
saat
zaman
zaman
hayat
hayat
zeytin
zaitun

Sebagai anggota dari rumpun bahasa Altaik, bahasa Turki memiliki kekerabatan dekat dengan beberapa bahasa-bahasa di Asia Tengah, seperti bahasa Azeri, Kazak, Uzbek, Uygur, dan Turkmen. Sebagaimana halnya bahasa Turki, bahasa-bahasa rumpun Altaik lainnya juga memiliki sejarah dipertuturkan oleh kaum nomaden di Asia Tengah.

Bahasa Turki merupakan bahasa yang Aglutinatif, yakni menggunakan banyak imbuhan kompleks untuk menajamkan makna suatu kata. Di sinilah keunikan unik bahasa Turki yang umumnya tak dimiliki oleh bahasa lainnya. Oleh karena itu, kita dapat membentuk suatu kalimat hanya dengan satu kata saja. Tidak percaya? Mari kita simak gambar di bawah berikut:


Untuk mengakhiri tulisan ini, ada peribahasa Turki yang cukup apik sebagai penutup, bunyinya begini: “Bir dil bir insan, iki dil iki insan.” peribahasa ini kalau diterjemahkan kurang lebih bermakna: “One who speaks only one language is one person, but one who speaks two languages is two people.“. Peribahasa ini menegaskan bahwa penguasaan lebih dari satu bahasa amatlah penting, mengingat dewasa ini arus globalisasi semakin tak terbendung. So, let’s learn languages and Türkçe öğrenelim! (Let’s Learn Turkish!)

---

Tulisan-tulisan Gr's Course dapat disebarluaskan dan disalin secara luas. Akan tetapi, demi menghargai ilmu pengetahuan, setiap bentuk penyebarluasan tulisan Gr's Course harap memberikan credit dan menyebutkan Gr's Course.

Jumat, 27 Januari 2012

Kasus datif dalam bahasa Turki

0 komentar Read More →

İsmin Yönelme Durumu (Kasus Datif) dalam bahasa Turki

Kasus Datif menggambarkan tujuan dari suatu kata benda yang pergi ke suatu tempat. Misal: saya memberi bunga kepada ibu, saya pergi ke sekolah. Maka sekolah dan ibu harus diubah kedalam kasus datif.

1. Apabila kata bendanya berakhiran vokal, tambahkan radikal –ya atau –ye. (sesuaikan dengan hukum keharmonisan):

Contoh:
ada (pulau) à adaya
müze (museum) à müzeye
gazete (surat kabar) à gazeteye

2. Apabila berakhiran konsonan, maka tambahkan radikal –a atau –e. (sesuaikan dengan hukum keharmonisan):

Contoh:
duvar (tembok) à duvara
arkadaş (teman) à arkadaşa
taraf (sisi) à tarafa
okul (sekolah) à okula
göl (danau) à göle
bal (madu) à bala

3. Kata benda yang berakhiran –ç diubah menjadi –c  dan ditambah radikal.

Contoh:
sonuç (hasil) à sonuca
haç (salib) à haca

4. Beberapa kata benda yang berakhiran –k diubah menjadi –ğ dan ditambah radikal.

Contoh:
yatak (ranjang) à yatağa
ipek (sutra) à ipeğe

5. Namun ada juga beberapa kata benda berakhiran –k yang langsung ditambahkan radikalnya.

Contoh:
ok (panah) à oka

6. Kata benda berakhiran –nk diubah menjadi –ng dan ditambah radikal.

Contoh:
ahenk (harmoni) à ahenge
renk (warna) à renge

7. Kata benda berakhiran –p biasanya diubah menjadi –b kemudian baru ditambah radikal.

Contoh:
çorap (kaus kaki) à çoraba
kitap (buku) à kitaba
sahip (pemilik) à sahibe

8. Ada beberapa kata benda berakhiran –t langsung ditambahkan radikalnya.

Contoh:
ahtapot (cumi) à ahtapota
fiyat (harga) à fiyata

9. Sebagian lain kata benda akhiran –t diubah menjadi –d kemudian baru tambah radikalnya.

Contoh:
kağıt (kertas) à kağıda
kurt (serigala) à kurda

PENGECUALIAN
A. Beberapa kata benda berakhiran vokal yang diapit dua konsonan, akan terjadi inversi.

Contoh:
karın (perut) à karna
isim (nama) à isme
burun (hidung) à burna

B. Untuk kata benda yang merupakan sebuah nama orang, nama kota, atau kata-kata yang menggunakan huruf kapital pada awalannya, tidak diberlalukan aturan untuk huruf ç k p t seperti yang dijelaskan diatas. Caranya begini: tambahkan apostrof sebelum radikal lalu tambahkan –a atau –e sebagai radikal apabila berakhiran konsonan, dan tambahlan –ya atau –ye sebagai radikal apabila berakhiran vokal.

Contoh:
İstanbul (Istanbul) à İstanbul'a
Allah (Allah) à Allah'a
Meriç (Meric) à Meriç'e
Topkapı (Topkapi) à Topkapı'ya
Konya (Konya) à Konya'ya

C. Kata-kata serapan asing tidak terikat pada hukum keharmonisan.

Contoh:
kalp (hati) à kalbe
kabul (penerimaan) à kabule
kontrol (kontrol) à kontrole
 

Pengikut

Copyright © 2010 Gr's Course

Template By Exercise Equipment Reviews | Elegant Theme | business website templates by Blogger Templates